Monggo Mampir...

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!




CERPEN (Surat Cinta dari Bapak)

20 Juli 2011

Jarak dan waktu tetap ku tempuh. Meskipun dengan sedikit rasa lelah, sedikit rasa lapar, dan meskipun hari ini matahari sedang tertawa melihat aku terbakar oleh panasnya. Panas yang amat sangat. Panas yang membakar kulit. Panas yang membuat kepalaku mendidih. Mungkin hatiku sama dengan matahari. Panasnya membuat hati berkobar untuk terus semangat mewujudkan mimpi. mimpi menjadi sastrawan dan jurnalis.
Alangkah bahagianya setiap hari bergelut dengan kata-kata. Namun Bapakku melarangnya dengan alasan "Bapak tidak suka" atau "Masa depannya suram" atau "Kerjanya hanya berhayal saja" atau "Kerjanya cuma cari berita, Tok!".
Kata siapa jadi sastrawan dan jurnalis masa depannya suram? Banyak koksastrawan dan jurnalis yang punya mobil mewah, bahkan rumah mewah. Kata siapa sastrawan kerjanya cuma berhayal? Mungkin lebih tepatnya "Imajinasi untuk masa depan yang lebih baik". Kata siapa jurnalis kerjanya cuma cari berita? Lah, jurnalis itu menyoroti opini yang sedang berkembang di masyarakat.
"Toh jadi sastrawan itu kan harus kuliah dulu, emangnya bapakmu ini mampu apa?!"
Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada uang, beasiswa pun jadi.
Sesekali angin menerpa rambutku. Kukayuh terus sepeda menuju rumahku tercinta. Sambil membayangkan naungan atap rumah yang sejuk, sajian makanan ibu tercinta. Dan yang pasti membayangkan senyum ibu menyambutku sepulang dari sekolah, tempatku menuntut ilmu.
"Huufth... Akhirnya sampai juga..
“Assalamu'alaikum" Teriakku sambil membuka pintu.
“Wa'alaikumsalam.." Jawab ibu sambil tersenyum.
Setelah melihat senyum ibu, kepalaku yang mendidih karena terpaan matahari tiba-tiba langsung adem. Kucium tangan ibu yang sudah mulai keriput. Yaa.. nggak keriput-keriput banget! Setelah itu aku langsung masuk ke kamar. Aku tak mau  mengganggu ibu yang sedang menjahit. Aku tahu kalau itu pakaina yang sedang ibu jahit adalah milik Bu Kulsum. Yang kalau pesan hari in maka harus jadi besok. Dan akalu ada sedikit kesalahan, pakaiannya langsung dikembalikan. Juga selalu saja jahitannya minta didahulukan.
Ibu sudah sering kali dimarahi Bu Kulsum. Tapi ibu tetap sabar menghadapinya. Kalau aku punya pelanggan seperti Bu Kulsum, pasti sudah aku tendang. (Nggak segitunya kaleee..)
Aku keluar kamar, sudah bukan dengan seragam sekolah lagi. Langsung ku ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur. Tugas kita sebagai seorang muslim supaya kita terhindar dari perbuatan keji dan munkar. seusai shalat, aku meminta izin pada ibu untuk pergi ke rumah sahabatku Aisha.
"Ibu benar, tidak mau Airin bantu?" Kataku.
"Tidak usah nak, sedikit lagi kok." Jawab ibu.
"Oh, ya sudah kalau begitu boleh tidak Airin ke rumah Aisha? Soalnya tadi Airin sudah janji mau mengajarinya pelajaran Bahasa Inggris" Kataku memohon.
"Tentu saja boleh, apa lagi kamu sudah janji. Janji itu harus ditepati, kalau tidak ditepati itu munafik namanya!" Kata ibu menasihati.
"Ya bu, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Rumah Aisha memang tak jauh dari rumahku. 15 menit jalan kaki sudah sampai.
Ku ketuk pintu rumah Aisha yang mewah, semewah rumahnya. Rumah yang dihuni oleh orang-orang hebat. Ayahnya saja seorang dokter, ibunya seorang guru di sekolah kami, kakak pertamanya seorang pilot dan kakak ke-duanya sudah sarjana.
Sementara Ayahku seorang supir pribadi, ibuku seorang penjahit dan kakakku seorang guru di Madrasah Aliyah. Sungguh perbedaan yang kontras. Tapi aku bangga dengan mereka. Ayah yang tegas, Ibu yang sabar dan kakak yang selalu memberi semangat. Aku juga senang hidup sederhna. Bukankah Rasulallah SAW juga hidup sederhana?
Aisha membuka pintunya sambil tersenyum dan mempersilahkanku duduk.
"Mmm.. Aisha, apa kau tak malu bersahabat denganku yang ekonominya jauh di bawahmu?" Tanyaku.
"Airin.. Airin.. Kau ini sudah berapa kali tanya seperti itu padaku! Tentu saja tidak, karena kekayaan itu tidak menjamin akhlak dan kecerdasan seseorang. Kau jangan rendah diri seperti itu lah RIn..!"
"Sudah.. ayo kita muai saja belajarnya!" Kata Aisha panjang lebar.
Aisha memang luar biasa. Meskipun dari keluarga terpandang, tapi dia tetap rendah hati dan baik.
Aisha melontarkan beberapa pertanyaan padaku. Aisha mengangguk tanda mengerti apa yang aku jelaskan. Tak lama, Bu Santi. Yaitu ibu Aisha yang juga guru Bahasa Indonesia di sekolah kami datang menghapiri kami yang sedang asyik belajr sambil membawa minuman dan cemilan.
“Silahkan nak.” Kata Bu Shanti ramah.
“Iya Bu terimakasih, seharusnya ibu tidak perlu repot-repot seperti ini. Saya kan Cuma main bu.” Kataku malu.
“Main sama dengan Tamu. Kalau tamu ya harus dihormati.”
“Ah, Ibu bisa saja.” Kataku lagi.
“Sudahlah Rin! Ssantai saja! Anggap saja ini rumahku!” Canda Aisha.
“Ya ini memagn rumahmu!” Balasku.
“Dasar kau!”
“Nak, kok kamu bisa fasih berbahasa Inggris seperti itu sih? Apa kamu ikut Les?”
“Aah.. tidak bu, mungkin itu hanya kebetulan saja.” Rendahku.
“Kebetulan bagaimana? Lah wong kata Bu Rani guru Bahasa Inggris kita, karya dan bicaramu dalam bahasa inggris patut diacungi jempol loh! Padahal kamu kan baru kelas 2 SMP.”
“Tidak. Ibu terlalu berlebihan. Aisha pun bisa melakukannya.” Timpalku.
“Yaiyalah bu, Airin kan masternya bahasa. Cita-citanya saja mau jadi Jurnalis dan Sastrawan yang jebolan Perancis” Puji Aisha.
“Nah. Cita-cita yang bagus itu nak! Kalau boleh tahu, rahasianya apa sih sampai-ssampai kamu semangat dan optimis seperti itu?” Tanya Bu Shanti.
“Rahasianya hanyalah kemauan yang tulus dari hati dan kerja keras yang tiada henti. Itu saja bu, dengan begitu kita akan optimis” Jelasku.
“Ooh, Airin bisa jadi panutan kamu Aisha!”
“Oh ya nak, bagaimana kalau kamu ibu ikut sertakan dalam Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten?”
“Bu Rani butuh satu orang lagi, dan Bu Rani memilih kamu” Tawar Bu Shanti.
“Wah, saya merasa tidak mampu bu!”
“Kebiasaan deh, merendah!”
“Sudah, terima saja. Mungkin ini langkah awalmu menjadi Sastrawan!” Aisha menyemangati.
Apa yang dikatakan Aisha ada benarnya juga. Percuma saja kerja keras kalau tidak punya pengalaman. Fikirku dalam hati.
“Saya mau bu!” Ungkapku.
“Nah gitu dong! Nanti akan segera ibu daftarkan”
Aku diberi wakti 1 minggu untuk berlatih. Waktu yang singkat memang. Minggu berlalu cepat. Semuanya sudah dipersiapkan secara matang. Sekarang saatnya perlombaan. Satu hari sebelumnya aku bicara dan mohon restu pada bapak dan ibu. Ibu sih boleh-boleh saja. Saya melewati perdebatan alot dengan bapak. Akhirnya tercetus kesepakatan dengan beberapa catatan. Entahlah apapun cantatannya dan sebanyak apapun catatannya, aku harus berusaha sebaik-baiknya.
Ke dua temanku mendapat nomor lebih awal. Rian dapat nomor undian 79, Devi mendapat nomor undian 100, sementara aku mendapat nomor 151.
Singkat cerita, lomba selesai dengan hasil 5 orang maju ke babak berikutnya yaitu tingkat provinsi. Dan aku serta Devi adalah dua dari lima peserta yang lolos.
Malamnya aku memperlihatkan piagam kemenanganku. Namun belum selesai perjuangan, karena tiga hari lagi akan digelar lomba tinkat provinsi. Aku meminta restu pada bapak dan ibu. Dan kali ini lebih ringan.
“Ya sudah, bapak ijinkan asalkan kamu mau berusaha semaksimal mungkin. Akan bapak do’akan. Sekarang, tolong buatkan bapak teh hangat. Mungkin ini untuk terakhir kalinya, karena besok pagi-pagi sekali kamu sudah berangkat” Perintah bapak.
“Ya pak.” Aku menurut.
Fajar mulai menyungging sinarnya. Aku harus segera pergi ke tempat perlombaan. Karena lombanya sudah dimulai pagi-pagi sekali.
Dag.. Dig.. Dag.. Dig.. Dag.. Dig..
Heuh, jantungku hampir copot. Semakin dekat nomornya, semakin copot jantungku. Kali ini aku mendapat nomor 101 dan Devi nomor 91. Akhirnya giliranku tiba. Aku menunjukkan pidatoku yang sudah aku persiapkan. Dengan intonasi, lafal, ekspresi, isi yang lumayan berbobot (menurutku) dan tidak lupa sedikit humor. Semuanya sudah ku tampilkan dengan lancar.
Usai tampil, aku banyak-banyak membaca Hamdallah. Sekarang saatnya saya bertawakal. Sudah ada usaha dari saya dan hanya tinggal Allah yang menentukan hasilnya.
Sudah tiba pengumumannya. Ketua Juri mengumumkan pemenangnya.
“Juara 3 diraih oleh nomor 17, atas nama Rano Karyanto.”
“Juara 2 diraih oleh nomor 100, atas nama Rafi Permana.”
“Juara 1 diraih oleh nomor 101, atas nama Airin Fharwashifa”
Duaaaarr!! Apa?? Aku menang??
Hatiku bertanya-tanya tak percaya atas apa yang sudah terjadi. Sampai-sampai aku tak mendengar riuh tepuk tangan penonton. Pikiranku masih menerka-nerka, apakah benar namaku yang disebut. Aisha yang ada disampingku memelukku erat.
“Selamat Rin! Kau menang! Kau berhasil!”
Mataku basah, namun aku tahan. Aku tak mau menangis sekarang. Aku maju ke atas panggung, atas perintah MC. Satu persatu piala dibagikan. Dari atas panggung aku melihat Bu Shanti menerima telepon. Kelihatannya sangat serius. Tapi ya sudahlah, itu bukan urusanku.
Usai pembagian piala, Bu Shanti mengajakku langsung pulang. Meskipun acaranya belum usai. Selama perjalanan Aisha hanya diam. Tidak biasa-biasanya. Aku heran, dari kejauhan pintu rumahku terbuka, dan banyak orang memakai busana muslim-muslimah. Lalu aku menengok ke samping rumahku,
“Bendera kuning!!!” Aku kaget. Aku berlari menuju rumah. Aku menerobos pintu tanpa salam. Banyak orang membacakan Yasin untukku
“Bapak..!!!” Teriakku kaget.
Badannya terbujur kaku sedang di bacakan Yasin oleh jamaah. Aku tak percaya ini, rasanya mustahil. Aku berlari mendekat, duduk disampingnya, menaruh Thropyku di lantai. Aku memeluk bapak erat.
“Inalillahi wa inna ilaihi raajiun”
Mataku meleleh, tak sanggup ku uraikan kata-kata lagi, seperti ku uraikan kata-kata pada setiap lomba. Tubuhku lemas, namun ku coba untuk kuat. Ku lepaskan pelukanku pada bapak. Dan mataku mencari sosok ibu, berharap ibu bisa menjelaskan bahwa ini semua hanyalah mimpi.
“Sabar nak” Kata ibu pelan
“Bapakmu meninggal karena kecelakaan mobi. Mobil taksi bapakmu tertabrak truk” Lanjut ibu.
“Maafkan kakak dik!”
“Kalau saja kakak tidak memaksa bapak untuk mengajari kakak naik mobil, pasti tidak akan terjadi seperti ini” Jelas kakak Uki pelan merasa bersalah.
“Apa?!”
Aarr!! Ku tampar kak Uki hingga hidungnya berdarah.
“Kamu pembunuh!! Kamu yang menyebabkan bapak meninggal”
“apa yang kau fikirkan? Kamu membunuh bapakmu! Bapakku satu-satunya!” Caciku tiada henti.
Namun hal itu tidak kulakukan. Aku tak jadi menamparnya. Itu hanya skelebat bayangan dari setan. Apa pun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Semuanya sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Tak ada yang harus disalahkan. Semua adalah kehendak Allah. Kehendak Allah, hal terbaik untuk kita semua. Selintas ku lihat Aisha dan Bu Shinta turut menangis.
“Semua pasti ada hikmahnya” Kata Aisha menghibur.
Pemakaman berlangsung cepat. Tanpa ku sadari, air mataku terus mengalir mengingat masa-masaku bersama bapak. Bapak, jasadmu boleh mati terkubur, tapi hatimu dan kenangan kita takkan pernah mati terkubur.
Doa dibacakan runtut dan khusyu oleh kyai Utsman. Setelah semua pelayad pulang, saya, ibu, kakak, dan Aisha tak buru-buru pergi. Ibu menyerahkan sebuah surat padaku.
“Baca!” Kata ibu.
“Itu dari bapakmu, semalam dia buat setelah meminum teh darimu”
Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka dan membacanya.
  
Salam Kasih
Airin anakku tercinta.
Bapak bangga padamu nak, karena selama ini kau sudah mampu melewati ujian dari bapak. Kau pasti bingung ujiannya apa? Bapak memang sengaja melarangmu menjadi Jurnalis dan Sastrawan. Karena bapak ingin menguji seberapa besar cita-citamu itu. Dan kamu sudah membuktikannya.
Airin anakku tercinta,
Kau memang hebat Rin! Bapak benar-benar bangga. Kau perempuan yang hebat, pantang menyerah, punya cita-cita yang tinggi. Teruskan cita-citamu nak! Bapak memang sudah meridhoinya sejak lama. Tapi ingat! Dalam meraih mimpi banyak tikungan dan batu-batu terjal yang harus kau hadapi.
Nak Airin,
Kau harus jadi perempuan yang kuat. Kuat hati dan kuat iman.
Bapak sangat mencintaimu Rin.
Salam terakhir untukmu.

Bapakmu yang selalu kau sayangi.
  
Subhanallah. Aku pun mencintaimu pak! Sangat mencintaimu.

  
END

0 komentar:

 

Musik

Cerita

Dunia